“Cal, pulang bareng yuk.” Ajak Wina.
“So sorry, dear. Gue dijemput. Besok aja gimana?” jawab Calla sambil memasukkan buku dan alat tulis ke dalam tasnya. Awalnya Celio menurut saat Calla memintanya untuk tidak menjemputnya, tapi tiba-tiba Celio meneleponnya dan ngotot mau menjemputnya hari ini dan sebagai adik yang baik Calla akhirnya menuruti permintaan kakaknya yang hobi flirting itu.
“Siapa yang jemput? Pacar elo ya? Kok nggak ngasih tau sih udah punya pacar? Jahat nih.”
“Ngaco deh elo. Yang jemput abang gue. Mau gue kenalin?” Jawab Calla lagi sambil menarik resleting tasnya.
“Mau banget! Ganteng nggak? Masih jomblo kan? Umurnya berapa? Kuliah apa kerja? Playboy nggak?” cerocos Wina penasaran. Padahal mereka baru kenal hari ini, tapi rasanya seperti sudah berteman bertahun-tahun. Dan Calla baru sadar kalau Wina bawelnya melebihi Bi Inah.
“Udah liat aja ntar.” Jawab Calla singkat. Calla sudah terbiasa menghadapi orang-orang bawel seperti Wina dan Bi Inah ini. Jawaban singkat dijamin bisa membuat mereka diam. Seperti kehabisan kata-kata.
Akhirnya Calla dan Wina sampai di gerbang sekolah. Cherry tidak bersama mereka karena ada masih ada urusan OSIS. Di seberang jalan telah terparkir sebuah mobil mewah berwarna merah dengan seorang laki-laki berkacamata hitam bersandar di pintunya yang jendelanya setengah terbuka. Semua mata yang baru melewati gerbang sekolah pasti tidak luput melihat pemandangan yang tidak biasa itu. Sekumpulan anak perempuan yang berdiri tidak jauh dari Calla asyik berbisik-bisik sambil menunjuk-nunjuk Celio. Kadang-kadang mereka sampai terbengong-bengong—terpesona dengan sosok laki-laki dengan mobil mewahnya itu.
Asriel Celio Ismail memang tukang tebar pesona.
“Cal, itu siapa? Ganteng banget!” tanya Wina. Matanya tidak lepas dari sosok Celio di seberang jalan.
“Abang gue.” Jawab Calla santai. Sekali lagi dia sudah terbiasa dengan keadaan begini. Well, Celio memang ganteng sih, tapi hobi tebar pesona sama flirtingnya itu yang kadang membuat Calla kesal.
Calla pun akhirnya memutuskan untuk menyeberang, meninggalkan Wina yang masih berdiri terpaku di gerbang sekolah. Selang beberapa detik, Wina pun akhirnya tersadar dari lamunannya dan segera menyusulnya.
“Cel, elo nggak berubah-berubah ya.”
“Apa sih?”
“Ngapain coba parkir disini. Biar diliat cewek-cewek?”
“Ya biar gue gampang nemuin elo lah. Kan murid di sini banyak.” Jawab Celio santai sambil terus lirik kiri-kanan.
“Dasar.” Kumat lagi deh kakaknya yang satu ini. Calla lebih memilih pulang naik bis daripada dijemput Celio. Calla masih baru disini, tidak enak kan kalau terlalu mencolok. “Oh iya, kenalin temen gue, Wina.” Ucap Calla tiba-tiba sambil menarik tangan Wina.
Tanpa menunggu lama lagi, Celio melepas sunglasses-nya dan menjabat tangan Wina. Seketika rona merah memenuhi wajah Wina yang cantik.
“Win, elo pulang naik apa?” ucapan Calla itu refleks membuat Wina dan Celio menyudahi acara berjabat tangan mereka. Wina yang kaget, hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya. Tiba-tiba dia tidak tahu harus menjawab apa.
“Bareng kita aja lah, Cal. Rumah elo dimana?” tanya Celio sambil memakai lagi sunglasses-nya.
“Hang Lekir.” Jawab Wina malu-malu. Di wajahnya masih tersisa rona merah yang tadi.
“Deket dong kalo gitu. Yaudah, bareng aja lah. Yuk.” Jawab Celio lagi sambil membuka pintu mobil.
Sepanjang perjalanan Calla, Celio, dan Wina saling bertukar pikiran. Mulai dari topik-topik yang sedang hangat dibicarakan sampai acara nonton bareng. Sepertinya semua berjalan lancar, kecuali satu. Wina sepertinya tertarik dengan Celio.
***

