RSS

Pages

Satu

Frere Jacques,
Frere Jacques,
Dormez vous?
Dormez vous?
Sonnez les matines,
Sonnez les matines…

Ding ding dong, ding ding dong. Frere—” Calla menolehkan kepalanya ke belakang. Ternyata sejak tadi ada yang memperhatikannya.

“Sampe kapan sih kamu mau nyanyi lagu itu? Udah SMA loh sekarang.” Seorang wanita berusia sekitar 40 tahun berjalan menghampirinya sambil tersenyum. Calla cuma bisa nyengir Ibunya bilang begitu.

“Emangnya ngga boleh ya Bu, anak SMA suka lagu anak-anak?” Anika Callasandra Ismail, akrab dengan nama Calla adalah anak kelas 10-A di SMA Bina Mulia. Rambutnya ikal sepunggung dan postur tubuhnya proporsional, menanggapi pernyataan Ibunya.

Cecilia Garcia mengusap-usap rambut anak perempuan satu-satunya itu sambil berujar, “Boleh kok, sayang. Ibu cuma nggak abis pikir aja kamu masih suka nyanyi itu kalo lagi beresin tempat tidur.”

“Lagunya enak sih, Bu. Nggak kalah kok sama lagu-lagu sekarang.” Timpal Calla.

“Iya deh. Ibu emang nggak pernak menang kalo debat sama kamu. Yaudah, mandi dulu sana. Entar terlambat loh. Inget, ini hari pertama. Harus bikin kesan yang baik.” Ujar Ibu sambil berjalan keluar kamar. Calla hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan Ibunya barusan.

Hari pertama sekolah memang sesuatu yang menyenangkan untuknya. Dan memang ini bukan kali pertama Calla pindah sekolah. Semenjak Ayahnya cukup sering dipindahtugaskan, Calla juga jadi cukup sering pindah sekolah. Untung saja Calla cukup berprestasi, jadi urusan pindah sekolah ini nggak terlalu ribet. Kalo urusan temen, itu nggak pernah jadi masalah buat Calla. Sejauh ini ia dikenal mudah beradaptasi dengan lingkungan baru.

Masih mengenakan bathrobe biru muda Terry Palmer-nya, Calla melenggang santai kea rah lemari pakaiannya. Mengambil seragam putih abu-abu yang baru saja dibelikan Bi Inah di pasar beberapa hari sebelum ia sampai disini. Selesai bersiap-siap, ia menyambar Kope denim backpacknya dan segera turun ke bawah. Sarapan.

Di meja makan, ia melihat Diego sedang asyik mengolesi roti tawarnya dengan selai coklat kesukaannya dan di sebelahnya duduk Celio yang sepertinya memilih nasi goreng untuk sarapannya pagi ini. Hanya Ayahnya saja yang belum kelihatan di meja makan. Calla berjalan mendekat, melempar asal tasnya ke sofa kecil di dekat meja makan, dan segera menarik kursi kosong di depan Diego, lalu duduk.

“Eh, Cal, biar gue aja yang nganterin lo ke sekolah ya.” Ujar Celio tiba-tiba.

“Hah?! Tumben banget elo mau nganterin gue ke sekolah. Biasanya paling anti. Pasti ada apa-apanya deh. Iya kan?” jawab Calla.

“Seharusnya kamu seneng dong Cal, kalo Celio mau nganterin kamu.” Ucap Ibu sambil meletakkan sepiring omelet isi sayuran di hadapan Calla.

“Emang harusnya sih iya, Bu. Tapi aku yakin, ini pasti ada apa-apanya.”

“Paling juga minta dikenalin cewek, Cal.” Timpal Ayahnya tiba-tiba. Dibilang begitu, Celio cuma bisa nyengir.

“Please deh, Cel. Ini juga baru hari pertama gue sekolah. Gue ngga kenal siapa-siapa.” Timpal Calla sambil mengiris omeletnya.

“Ya pokoknya, elo gue anterin ke sekolah. Udah nggak usah protes.”

***

Tunggu lanjutannya ya.

0 comments:

Post a Comment